Saturday, 15 January 2011

Letjen KKO Hartono



Letjen KKO Hartono, adalah Perwira tinggi yang berani terang-
terangan mendukung Bung Karno. Ucapannya yang terkenal adalah "Putih 
Kata Bung Karno, Putih Kata KKO.... Hitam kata Bung Karno, Hitam 
kata KKO" ini adalah ucapan kesetiaan prajurit komando pada 
pimpinan. Tak lama setelah itu ada demo di jalan yang dilakukan 
prajurit KKO di Surabaya. Slogan terkenal Demo itu adalah "Pejah 
Gesang Melu Bung Karno" Hidup Mati Ikut Bung Karno. Kejadian itu di 
tahun 1966.
 
Hal ini jelas membuat khawatir Suharto, maka Suharto memerintahkan 
Jenderal Sumitro untuk ke Surabaya yang tujuan utamanya adalah 
memapankan kekuasaan Suharto. Di Surabaya Soemitro mengumpulkan 
semua mantan Panglima Brawijaya, kecuali Panglima Brawijaya yang 
pertama Imam Soedja'i yang emang udah meninggal di tahun 1953. 
Disana Sumitro juga mengeliminir perbedaan antara Resimen Ronggolawe 
dengan Resimen Narotama yang selalu menjadi rivaal di dalam tubuh 
Brawijaya.
 
Sumitro juga melancarkan serangan ke Jenderal Hartono, yang kemudian 
akhirnya Jenderal KKO Hartono di dubeskan ke Pyongyang tahun 1968. 
Saat menjadi Dubes Korea di Pyongyang ia dipanggil di Jakarta pada 
tahun 1971 dan kemudian dikabarkan bunuh diri. Tapi apa benar kabar 
Letjen KKO Bunuh diri? banyak yang meragukan termasuk Ali Sadikin. 
banyak berita yang mengabarkan hal ini, dan sepertinya pernah juga 
diangkat sebagai berita selidik kasus di Stasiun Televisi Swasta. 
Ini salah satu kabar tentang keraguan Letjen KKO bunuh diri.


 
KEMATIAN LETJEN KKo HARTONO MASIH MISTERI
 
JAKARTA - Seandainya Pemerintah Orde Baru mau berterus terang lewat 
berbagai
argumentasi ilmiah, mungkin kematian Letnan Jenderal KKo (sekarang 
Marinir)
Hartono yang sudah terjadi 28 tahun lalu tidak lagi menjadi bahan 
pembicaraan
Negatif di kalangan rekan sejawatnya.
 
Korban yang dimakamkan secara militer di Taman Makam Pahlawan 
Kalibata
Jakarta Selatan pada tanggal 7 Januari 1971 diduga meninggal di 
kediamannya
jalan Prof Dr Soepomo akibat pembunuhan oleh orang tak dikenal. 
Bukan seperti
yang dijelaskan secara tersembunyi oleh rezim Orde Baru sebagai 
bunuh diri
dengan menggunakan senjata api pistol miliknya sendiri.
 
Beberapa sahabat korban yang sampai saat ini belum yakin benar 
rekannya itu
meninggal akibat bunuh diri adalah Letjen KKo (Pur) Ali Sadikin, 
mantan Gubernur
DKI Jaya dan Laksamana Madya Rachmat Sumengkar, mantan Wakil KSAL. 
Kedua tokoh
TNI AL ini menyebutkan, sulit untuk mengatakan Letjen KKo Hartono 
bunuh diri
hanya dengan data yang ditemukan di kediaman korban pada waktu itu.
 
Ditambah lagi dengan data yang menyebutkan, korban tidak divisum oleh
dokter Rumah Sakit Angkatan Laut ataupun RSCM yang waktu itu dinilai 
netral
setelah ditemukan meninggal di rumahnya sekitar pukul 05.30. Tapi 
oleh petugas
rezim Orde Baru, mayat korban langsung dibawa ke Rumah Sakit 
Angkatan Darat.
Baru setelah itu mayatnya disemayamkan di rumahnya untuk kemudian 
dibawa ke
Taman Makam Pahlawan Kalibata untuk dimakamkan secara militer dengan 
inspektur
upacara KSAL Laksamana Madya Soedomo.
 
Disebutkan, dari data yang mereka miliki terlihat korban bukan tipe 
manusia yang
mudah putus asa. Apalagi mau bunuh diri hanya karena ada dugaan ia 
putus asa
atas hasil pekerjaannya yang tidak berhasil sebagai Duta Besar Luar 
Biasa untuk
Korea Utara. '' Saya masih ragu jika Letjen Hartono disebut sebagai 
bunuh
diri'', ujar Rachmat Sumengkar yang saat ini berwiraswasta pada 
Pembaruan, Rabu
lalu.
 
Pendapat kedua tokoh TNI AL ini ditepis oleh Komandan Korps Marinir 
TNI AL Mayor
Jenderal (Mar) Soeharto di Surabaya Rabu lalu yang menyebutkan, 
Letjen KKo
Hartono, salah seorang tokoh pendiri Marinir, benar meninggal akibat 
bunuh diri.
Semua data tentang peristiwa  kematian Letjen KKO Hartono menguatkan 
jika
mantan komandannya itu bunuh diri dan tidak perlu dijadikan sebagai 
polemik di
masyarakat.
 
Perlu Ditelusuri
 
Keterangan ini membuat beberapa rekan korban tetap berkeinginan agar
peristiwa kematian Letjen KKO Hartono ditelusuri kembali oleh 
pemerintah agar
masalahnya bisa jelas dan tidak menjadi bahan pertanyaan generasi 
muda dimasa
mendatang. Jika kasus kematian korban tetap dinyatakan sebagai bunuh 
diri hanya
dengan data yang ada dari rezim Orde Baru dikhawatirkan pertanyaan 
terus
berlangsung. Dan generasi muda mendatang mendapatkan sejarah bahwa 
seorang tokoh
Marinir pernah membuat kesalahan dengan bunuh diri.
 
Disebutkan, apakah kematian korban ada kaitannya dengan ucapannya 
yang
pernah menggegerkan masyarakat yang menyebutkan, "Putih kata 
Presiden Sukarno,
putih pula kata KKO. Hitam kata Presiden Sukarno, hitam pula kata 
KKo". Jika
hal ini ada kaitannya, perlu ada penelusuran agar sejarahnya bisa 
diluruskan.
Demikian pula bila bila sebaliknya perlu dijelaskan kepada 
masyarakat.
 
Sementara itu dalam berita harian Sinar Harapan tertanggal 7 Januari 
1971
disebutkan, kematian Letjen KKO Hartono diliputi misteri. Sebelum 
ditemukan
meninggal di rumahnya, korban yang menjabat sebagai Dubes di Korea 
Utara
dipanggil ke Jakarta untuk mengadakan pembicaraan dengan beberapa 
pejabat
penting di Departemen Luar Negeri dan Kopkamtib. Ia berada di 
Jakarta sejak
19 Desember 1970 dan merencanakan kembali ke Pos tugasnya di 
Pyongyang pada
hari ia ditemukan meninggal.
 
Selama berada di Jakarta selain bertemu dengan Menlu Adam Malik dan 
Presiden
Soeharto yang bersangkutan juga berkunjung ke Kopkamtib pada tanggal 
29
Desember 1970. Tidak diketahui apa yang dibicarakan dalam pertemuan 
itu.
 
Korban ditemukan tergeletak di lantai kamarnya oleh ibu kandungnya 
yang sudah
tua dalam keadaan berlumuran darah akibat tembakan peluru pistol di 
bagian
belakang kepala. Pistol yang menyebabkan kematian korban ditemukan 
tergeletak
dekat mayat korban.
 
Karena korban adalah warga KKo AL, pihak pertama yang segera 
dihubungi
adalah Komandan KKo Mayjen Mukiyat yang segera datang ke lokasi 
kejadian.
Kemudian datang juga KASAL Soedomo dan Kolonel CPM NICHLANY. Mayat 
korban
kemudian dibawa ke RSPAD untuk mendapatkan visum dokter. Almarhum 
yang
lahir di Solo 1 Oktober 1927 memulai kariernya sebagai anggota 
marinir pada
tahun 1945 dengan pangkat Letnan Muda. Dan puncak kariernya di TNI 
AL adalah
Menteri/Wakil Panglima Angkatan Laut pada tahun 1966. Sesudah itu 
tanggal 8
November 1968 ia diangkat menjadi Dubes RI di Korea Utara. ( 070/U-2)
***

No comments:

Post a Comment

silahkan isi komentar