Wednesday, 12 January 2011

Wawancara Wisnu Djajengminardo:

"Saya Serigala Terbesar dari Halim..."
Wisnu Djajengminardo, 70 tahun, mantan Komandan Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta, menyebut dirinya serigala terbesar dari Halim. Serigala adalah sebutan orang luar terhadap anggota Angkatan Udara RI periode 1965-1966. Sebutan "menyalak" itu berkait erat dengan peristiwa Gerakan 30 September-Partai Komunis Indonesia (G30S-PKI), yang menyeret pamor angkatan itu dalam sebuah episode sejarah yang disebut "kabut Halim".
Versi resmi rezim Orde Baru menyebutkan bahwa AURI terlibat dalam peristiwa pemberontakan komunis itu. Ada beberapa indikasi yang dimajukan: pelatihan sejumlah sukarelawan yang dipimpin Mayor Udara Sujono sejak Juli 1965 di Desa Lubangbuaya, Jakarta; kenyataan bahwa Menteri/Panglima AU Laksamana Madya Udara Omar Dhani telah sebelumnya mengetahui rencana penculikan sejumlah jenderal Angkatan Darat (AD) yang kemudian disebut tujuh pahlawan revolusi; dan fakta bahwa Dipa Nusantara Aidit, tokoh PKI, bisa melenggang terbang dari Pangkalan Halim ke Yogyakarta pada 2 Oktober 1965 dini hari.
Namun, karena sebagian sejarah bisa dimanipulasi di bawah sepatu lars kekuasan Orde Baru, kini pada era reformasi banyak pihak yang ingin membuka topeng sejarah yang bopeng. Salah satunya adalah Wisnu Djajengminardo itu dan Perhimpunan Purnawirawan Angkatan Udara (PPAU)?organisasi mantan anggota Angkatan Udara (AU), yang didirikan pada 1998. Sejak Januari lalu, mereka telah merintis penulisan semacam buku putih sejarah AURI, khususnya menyangkut peristiwa seputar G30S-PKI di Pangkalan Halim. Wisnu sebelumnya telah menerbitkan buku Kesaksian: Memoir Seorang Kelana Angkasa (Penerbit Angkasa Bandung, 1997).
Wisnu kini kakek enam cucu. Namun, tubuhnya masih tegap. Raut wajahnya menyiratkan jejak kegantengan masa silamnya. Ceplas-ceplos bila berbicara (kadang sebelah kakinya jegang di atas kursi), purnawirawan marsekal muda itu berpenampilan muda: berjas biru gelap dengan kemeja tanpa dasi, berkacamata hitam, dan bertopi kulit warna cokelat. Kepada wartawan TEMPO Ardi Bramantyo dan Kelik M. Nugroho, Wisnu mengungkapkan sebagian isi buku itu dan detik-detik bersejarah seputar G30S-PKI di Pangkalan Halim.
Wawancara berlangsung dua kali, di kantor PPAU di kawasan Kebayoran, Jakarta, dan di rumahnya yang megah berarsitektur mediteranian di kawasan Pejaten Barat, Jakarta, Selasa pekan lalu. Pada wawancara pertama, Saleh Basarah (mantan KSAU), A. Andoko (Sekretaris Jenderal PPAU), dan Omar Dhani mendampingi Wisnu. Berikut petikannya.
________________________________________
Mengapa buku ini disusun? Apa gambaran isi secara umum?
Buku ini ingin menyajikan peristiwa seputar 1 Oktober 1965 berdasarkan fakta-fakta. Buku ini digarap tidak asal-asalan dan berdasarkan informasi saksi hidup yang masih banyak. Ia juga diaudit oleh ahli sejarah Asvi Marwan Adam dari LIPI. Kita harus berusaha mengungkap "kabut Halim", demi sejarah, demi keutuhan ABRI. Menepuk air didulang tepercik muka sendiri. Kalau Angkatan Udara ternoda, rusaklah pula angkatan-angkatan lain.
Menjelang peristiwa G30S-PKI, sejumlah sukarelawan dilatih di Halim. Sebagai komandan pangkalan, Anda mengetahuinya waktu itu?
Saya tahu. Tapi mereka latihan di Desa Lubangbuaya, bukan di Pangkalan Halim. Saya hanya tahu bahwa di situ ada latihan. Saya tidak tahu lebih jauh dari itu.
(Latihan itu dilakukan untuk menyiapkan pembentukan "angkatan kelima", gagasan PKI untuk mempersenjatai rakyat sebagai angkatan tersendiri setelah Angkatan Darat, Udara, Laut, dan Kepolisian)
Siapa yang melatih?
Mereka gabungan beberapa angkatan, termasuk AD. Latihan itu berlangsung sejak Juli hingga September 1965. Jumlah mereka 2.000 orang. Pimpinannya Mayor Udara Sujono, Komandan Resimen Pasukan Pertahanan Pangkalan (PPP) yang bermarkas di Kramatjati, Jakarta. Dulu, selain PPP, AURI memiliki Pasukan Gerak Tjepat (PGT). Keduanya kini bergabung dalam satuan Kopaskhas (Komando Pasukan Khas) TNI AU.
Apa tujuan pelatihan di Lubangbuaya itu?
Untuk menghadapi neokolonialisme-imperialisme (nekolim), dulu kita berusaha agar pangkalan-pangkalan vital dijaga dengan baik. Istilah Bung Karno (Presiden RI-1) dulu kan "Inggris kita linggis, Amerika kita setrika". Mengingat pasukan kita tidak banyak, ada ide untuk melatih masyarakat. Itu yang dilaporkan Sujono. Itu sebenarnya mirip Rakyat Terlatih (Ratih) sekarang. Ternyata kemudian Sujono melampaui kewenangannya. Dia ambisius dalam mengejar karir dan pangkat. Dia berbuat sesuatu yang ingin bisa disebut wah.
(Menurut A. Andoko, Sekretaris Jenderal PPAU, pelatihan di Pondokgede itu inisiatif Sujono. Akhir September, pimpinan AURI telah memerintahkan agar pelatihan itu dihentikan karena tujuannya dianggap tidak jelas. Juga ditemukan bahwa mereka yang dilatih itu kebanyakan orang dari PKI. Padahal, mereka semestinya direkrut dari berbagai unsur kaum nasionalis, agama, juga komunis. Karena ketidakseimbangan itu, pelatihan tersebut diperintahkan untuk dihentikan.)
Apa tindakan Anda setelah mengetahui pelatihan itu?
Itu bukan wilayah kekuasaan saya. Apa wewenang saya untuk menghentikannya? Waktu itu Markas Besar AU juga menanyakan, apakah Halim sudah mengadakan latihan bersenjata. Jawabannya: saya baru di sini dan belum menyelami keadaan masyarakat di sini. Saya dilantik sebagai Komandan Pangkalan Halim pada 24 Mei 1965, sekitar empat bulan sebelum peristiwa G30S-PKI.
Sebenarnya apa ancaman untuk pangkalan itu?
Dulu, suatu peristiwa peledakan tempat amunisi pernah terjadi di Pangkalan Udara Iswahyudi, Madiun. Kejadian itu mengandung unsur subversi. Momentumnya beberapa waktu setelah peristiwa pembakaran Kedutaan Inggris di Jakarta. Apakah ini bentuk balas dendam oleh pihak Inggris, saya tidak bilang begitu. Yang jelas, waktu itu Angkatan Udara kita terkuat di Asia Tenggara, sementara banyak perlengkapan AU dipasok dari Rusia. Inggris dan Amerika Serikat iri dan khawatir.
Apa yang Anda alami pada peristiwa 30 September 1965?
Malam itu, saya berada di rumah saya di Jalan Madura, Menteng. Ajudan Omar Dhani mendatangi saya pada pukul 22.00. Kata dia, saya harus segera pergi ke Pangkalan Halim karena Komodor Leo Watimena, Panglima Komando Operasi (Koops) AU, akan mengadakan briefing penting. Sesampai di Halim, saya bertemu Leo. Komandan-komandan skuadron bawahan saya dan perwira-perwira staf Koops AU sudah berkumpul di sana. Leo menyampaikan briefing singkat yang diberikan Omar Dhani sebelumnya. Kata dia, Omar Dhani mengatakan akan terjadi sesuatu di kalangan AD. Beberapa jenderal yang dikatakan kontrarevolusioner akan ditangkapi dan diculik oleh grup yang menamakan diri progresif revolusioner.
Dalam briefing diberitahukan nama-nama jenderal itu?
Tidak. Dalam briefing, saya menanyakan siapa jenderal yang akan diculik, juga siapa yang menamakan diri progresif revolusioner itu. Leo mengatakan bahwa dia memberikan briefing tidak lebih dan tidak kurang dari yang dia dengar dari Omar Dhani. Bahwa itu (soal penculikan jenderal dan kelompok progresif revolusioner) adalah urusan intern AD. Kata Leo, kita tidak usah ikut campur, kita adalah AURI, tapi kita siap siaga saja. Dia kelihatan marah saya tanya itu.
Setelah itu, apa yang Anda lakukan?
Lalu saya mengumpulkan semua staf: perwira intel, komandan skuadron, perwira operasi, dan lain-lain. Saya laksanakan perintah Pangkoops untuk menyiagakan penjagaan Halim. Saya minta warga sekitar juga dijaga. Setelah itu, saya ingin pulang ke rumah untuk mengganti pakaian sipil dengan pakaian militer. Dalam perjalanan pulang, saya berpikir terus mempertanyakan siapa yang disebut progresif revolusioner itu. Kalau kita mau mengadakan operasi, kan info intel harus jitu. Tapi, ini infonya tidak lengkap.
(Dalam buku Kesaksian, Wisnu mencoba bertanya ke kakak iparnya, Kolonel CPM Drajad, soal briefing dari Leo itu, tapi Drajad mengaku tidak tahu-menahu soal itu. Juga jawaban setali tiga uang diperoleh Wisnu ketika dia menanyakannya ke Letnan Kolonel Sugianto, staf intelijen dari CPM.)
Jadi, sebenarnya AD sudah mengetahui rencana penculikan tersebut karena Anda sudah bertanya ke Drajad dan Sugianto?
Mereka berdua tidak tahu, lalu mereka kasak-kusuk setelah itu. Jawaban yang mereka terima juga sangat rahasia.
Soal kepergian Presiden Soekarno ke Halim, apakah itu berkaitan dengan standar pengamanan presiden?
Oh, ya. Begitu ada berita presiden akan masuk ke Halim, kita langsung menyiapkan tempat Leo untuk istirahat.
Apa alasan Bung Karno ke Halim?
Menurut Kolonel Saelan, mantan ajudan Presiden RI 1, Bung Karno sendiri yang menentukan untuk pergi ke Halim. Mungkin itu jalan yang lebih dekat daripada ke Pelabuhan Tanjungpriok. Mungkin juga karena Omar Dhani ada di situ sehingga Bung Karno merasa lebih aman.
Apakah setelah Bung Karno datang di Halim, keamanan lebih ditingkatkan?
Harus.
Siapa yang mengamankan Pangkalan Halim?
Ya, ada sebagian dari anggota PGT. Jumlah personelnya mungkin tidak mencapai satu kompi. Juga ada Polisi AU yang berkekuatan tidak mencapai satu kompi. Karena kejadiannya bertubi-tubi, kita tidak bisa menjalankan perintah operasi yang jitu. Dalam peristiwa itu, dua orang PGT tertembak.
Berapa lama Soekarno di Halim?
Dari sekitar pukul 10.00 hingga pukul 22.00. Tetapi, akhirnya diputuskan lewat darat menuju Bogor.
Apakah ada pasukan pemberontak di Halim?
Siapa? Mungkin kita dicap sebagai pasukan pemberontak. Padahal, justru kita yang loyal pada Panglima Tertinggi.
Bagaimana peristiwa baku tembak itu terjadi?
Itu terjadi pada 2 Oktober. Resimen Para-Komando Angkatan Darat (RPKAD) sebenarnya mengejar batalyon dari Jawa Tengah dan Jawa Timur. Batalyon itu lari masuk ke dalam pangkalan dan dikejar. Lalu, terjadi pertempuran di Jalan Pondokgede. Tapi, dua prajurit kita yang tertembak itu sebelum RPKAD perang dengan batalyon tersebut.
Apa alasan RPKAD memaksa masuk Halim?
Ya, itu perintah dari Soeharto (Panglima Komando Cadangan Strategis AD waktu itu). Katanya, mereka mau membersihkan Halim dari pasukan komunis dan orang-orang komunis yang di dalam pangkalan.
Siapa pasukan komunis yang dimaksud?
Tidak tahu. Mungkin pasukan Sujono itu. Tapi mereka tidak tahu latihan itu di luar pangkalan.
RPKAD tidak mengontak Anda sebelum masuk Halim?
Oh, tidak. Pokoknya, kejar saja itu Wisnu.
Kenapa dua batalyon itu ada di sana?
Katanya, mereka akan ikut parade Hari Ulang Tahun ABRI 5 Oktober.
Kenapa mereka ditempatkan di sekitar Halim?
Sebetulnya di jalan by pass (dari Cawang ke Tanjungpriok). Mungkin agar mereka lebih leluasa ke Senayan bila ingin latihan.
Apakah senjata chung yang dilaporkan Soeharto ke Bung Karno itu milik AURI?
Bukan hanya milik AURI, Angkatan Darat juga punya. Yang jelas, itu bukan dari gudang di Halim. Saya tidak menyimpan chung.
Siapa saja tokoh yang datang ke Halim?
Aidit. Jangan lupa, waktu itu dia Menko (D.N. Aidit adalah menteri koordinator dalam Kabinet Dwikora). Waktu itu saya diminta untuk menyiapkan pesawat untuk menerbangkan dia ke Jawa Tengah.
Atas perintah siapa?
Saya memperoleh perintah dari Leo. Sebenarnya, dia juga memperoleh perintah dari atasannya.
Kenapa Aidit bisa terbang dari Halim?
Dia kan Menko. Waktu itu, kita kan belum mengetahui yang terlibat (peristiwa 30 September) itu: Aidit, PKI, atau agen rahasia AS?
Jadi, bukan hal yang aneh bila Aidit terbang dari Halim?
Menurut saya tidak. Kita belum tahu, apakah Aidit ini bajingan atau bukan.
Kapan Aidit terbang?
Tidak lama setelah Presiden Soekarno ke Bogor. Sekitar pukul 00.00, 2 Oktober. Katakanlah karena itu kita bersalah. Tapi, dari sudut kacamata siapa kita bersalah? Kita loyal kepada Pangti. Kita profesional.
Bagaimana soal keterlibatan orang-orang AURI, seperti Heru Atmodjo dan Gathut Soekrisno?
Tidak ada anggota AURI yang menyiksa (tujuh pahlawan revolusi). Kolonel Heru Atmodjo (waktu itu Asisten Direktur Produksi Intelijen Departemen AU, berpangkat kolonel) itu intel kita. Dia bergerak ke mana saja, kok dimasukkan sebagai salah satu penggerak? Dia sendiri tidak merasa. Sedangkan keterlibatan Gathut Soekrisno (waktu itu mayor udara yang diperbantukan pada Inspektur Jenderal Politik Ekonomi Sosial AURI) jelas. Dia anak buah Sujono.
Apakah Anda diperiksa juga? Berapa lama?
Oh, ya. Sebentar. Saya diperiksa oleh anak buah Leo (Komando Operasi AU). Sebelum saya menjadi Atase Militer Kedutaan RI di Washington D.C., kan harus ada semacam clearance (penjernihan).
Anda lulus pemeriksaan Teperpu?
Oh, ya! Saya diperiksa Teperpu (Team Pemeriksa Pusat) Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban hanya beberapa jam. Mungkin hanya tiga sampai empat jam. Pertanyaannya sama dengan apa yang diajukan anak buah Leo kepada saya.
Kenapa Anda tidak dijadikan saksi dalam persidangan Omar Dhani?
I'm the biggest wolf of Halim (Saya serigala paling besar dari Halim).
Apakah waktu itu ada usaha dari AURI untuk mencarikan saksi kunci yang bisa meringankan Omar Dhani?
Yah, terus terang saja, AURI waktu itu sudah keple (lembek). Mereka semua sudah takut kepada Soeharto.
Apakah perintah harian Omar Dhani sebagai reaksi waktu itu gambaran umum sikap AURI?
Ya, itu, kita loyal. Kejadian itu memang bertubi-tubi, terus ada ralat, kan.
Bisa jadi AURI terkena imbas G30S-PKI karena sikap itu salah satunya?
Mungkin, atau bisa juga sudah ada suatu rekayasa sebelumnya, kan (Wisnu dan yang lain-lain tertawa).
Apa yang dimaksud dengan rekayasa?
Ya, sudah ada skenario sebelumnya. Ini mungkin, lo, ya, ha-ha-ha.... AURI jadi kambing hitam.
Kok, AURI dijadikan kambing hitam? Apa sebelum itu AURI "musuh" AD?
Omar Dhani dan A. Yani (Letnan Jenderal TNI AD waktu itu) itu kawan dekat dan akrab.
Lalu, kenapa AURI dijadikan kambing hitam?
Yang di Pak Yani itu siapa?
Bagaimana perasaan Anda dituduh komunis?
Ketika buku putih pertama sejarah G30S-PKI diterbitkan, anak saya yang kuliah di Universitas Padjadjaran Bandung membacanya. Di buku itu, nama saya ditulis sebagai komunis. Wow, saya kejar si Domo (Sudomo, mantan Panglima Kopkamtib waktu itu, yang menyusun buku putih). Saya bilang, "Ini ada apa?" Domo itu kan begitu. Dia dangkal sekali. Jawaban dia, "Ya, kalau tidak benar, kan tidak apa-apa.?" Terus saya mengatakan, "Lo, kalau tidak benar tidak apa-apa bagaimana? Kalau cucuku bilang, oh, eyangku itu komunis, bagaimana?" Setelah itu, buku putih itu diganti dan nama saya sudah tidak disebut lagi.
Jadi, apa inti buku yang kini tengah Anda susun bersama teman-teman?
Intinya adalah "you listen to us, we're telling you a story". Mbok kita sekali-kali didengerin, dong. Seperti iklan di TV itu, lo, ha-ha-ha.? Nah, baru setelah itu, Anda yang menilai, kita bohong atau tidak. Buku itu akan kami terbitkan Agustus nanti.

No comments:

Post a Comment

silahkan isi komentar