Rabu, 21 September 2011

*Soekarno, Sejarah yang tak memihak*

*Malam minggu. Hawa panas dan angin seolah 
diam tak berhembus. Malam ini saya bermalam 
di rumah ibu saya. Selain rindu masakan sambel
goreng ati yang dijanjikan, saya juga ingin 
ia bercerita mengenai Presiden Soekarno. 
Ketika semua mata saat ini sibuk tertuju, 
seolah menunggu saat saat berpulangnya Soeharto, 
saya justru lebih tertarik mendengar penuturan 
saat berpulang Sang proklamator. Karena orang tua
saya adalah salah satu orang yang pertama tama bisa melihat secara
langsung jenasah Soekarno.Saat itu medio Juni 1970. 
Ibu yang baru pulang berbelanja, 
mendapatkan Bapak ( almarhum ) sedang menangis sesenggukan.
" Pak Karno seda " ( meninggal )
Dengan menumpang kendaraan militer mereka bisa sampai di Wisma Yaso.
Suasana sungguh sepi. Tidak ada penjagaan dari kesatuan lain 
kecuali 3 truk berisi prajurit Marinir ( dulu KKO ). Saat itu memang Angkatan
Laut, khususnya KKO sangat loyal terhadap Bung Karno. Jenderal KKO
Hartono - Panglima KKO - pernah berkata ,
" Hitam kata Bung Karno, hitam kata KKO. Merah kata Bung Karno, 
merah kata KKO "
Banyak prediksi memperkirakan seandainya saja Bung Karno menolak untuk
turun, dia dengan mudah akan melibas Mahasiswa dan Pasukan Jendral
Soeharto, karena dia masih didukung oleh KKO, Angkatan Udara, 
beberapa divisi Angkatan Darat seperti Brawijaya dan terutama Siliwangi 
dengan panglimanya May.Jend Ibrahim Ajie.
Namun Bung Karno terlalu cinta terhadap negara ini. Sedikitpun ia
tidak mau memilih opsi pertumpahan darah sebuah bangsa yang telah
dipersatukan dengan susah payah. Ia memilih sukarela turun, dan
membiarkan dirinya menjadi tumbal sejarah.
The winner takes it all. Begitulah sang pemenang tak akan 
sedikitpun menyisakan ruang bagi mereka yang kalah. Soekarno harus 
meninggalkan istana pindah ke istana Bogor . Tak berapa lama datang surat dari
Panglima Kodam Jaya - Mayjend Amir Mahmud - disampaikan jam 8 pagi
yang meminta bahwa Istana Bogor harus sudah dikosongkan jam 11 siang.
Buru buru Bu Hartini, istri Bung Karno mengumpulkan pakaian dan 
barang-barang yang dibutuhkan serta membungkusnya dengan kain sprei. 
Barang-barang lain semuanya ditinggalkan.
" Het is niet meer mijn huis " - sudahlah, ini bukan rumah saya 
lsgi ,demikian Bung Karno menenangkan istrinya.
Sejarah kemudian mencatat, Soekarno pindah ke Istana Batu Tulis
sebelum akhirnya dimasukan kedalam karantina di Wisma Yaso.
Beberapa panglima dan loyalis dipenjara. Jendral Ibrahim Adjie
diasingkan menjadi dubes di London . Jendral KKO Hartono secara
misterius mati terbunuh di rumahnya.
Kembali ke kesaksian yang diceritakan ibu saya. Saat itu belum 
banyak yang datang, termasuk keluarga Bung Karno sendiri. Tak tahu apa 
mereka masih di RSPAD sebelumnya. Jenasah dibawa ke Wisma Yaso. Di ruangan
kamar yang suram, terbaring sang proklamator yang separuh hidupnya
dihabiskan di penjara dan pembuangan kolonial Belanda. Terbujur dan
mengenaskan. Hanya ada Bung Hatta! 
dan Ali Sadikin - Gubernur Jakarta - yang juga berasal dari KKO Marinir.
Bung Karno meninggal masih mengenakan sarung lurik warna merah 
serta
baju hem coklat. Wajahnya bengkak bengkak dan rambutnya sudah 
botak.
Kita tidak membayangkan kamar yang bersih, dingin berAC dan penuh
dengan alat alat medis disebelah tempat tidurnya. Yang ada hanya
termos dengan gelas kotor, serta sesisir buah pisang yang sudah 
hitam dipenuhi jentik jentik seperti nyamuk. Kamar itu agak luas, dan
jendelanya blong tidak ada gordennya. Dari dalam bisa terlihat 
halaman belakang yang ditumbuhi rumput alang alang setinggi dada manusia !.
Setelah itu Bung Karno diangkat. Tubuhnya dipindahkan ke atas 
karpet di lantai di ruang tengah.
Ibu dan Bapak saya serta beberapa orang disana sungkem kepada jenasah,
sebelum akhirnya Guntur Soekarnoputra datang, dan juga orang orang
lain.
Namun Pemerintah orde baru juga kebingungan kemana hendak 
dimakamkan jenasah proklamator. Walau dalam Bung Karno berkeingan agar kelak
dimakamkan di Istana Batu Tulis, Bogor . Pihak militer tetap tak 
mau mengambil resiko makam seorang Soekarno yang berdekatan dengan ibu kota.
Maka dipilih Blitar, kota kelahirannya sebagai peristirahatan
terakhir. Tentu saja Presiden Soeharto tidak menghadiri pemakaman 
ini. Dalam catatan Kolonel Saelan, bekas wakil komandan Cakrabirawa,
" Bung karno diinterogasi oleh Tim Pemeriksa Pusat di Wisma Yaso.
Pemeriksaan dilakukan dengan cara cara yang amat kasar, dengan 
memukul-mukul meja dan memaksakan jawaban. Akibat perlakuan kasar terhadap
Bung Karno, penyakitnya makin parah karena memang tidak mendapatkan
pengobatan yang seharusnya diberikan. "
 
( Dari Revolusi 1945 sampai Kudeta 1966 )
dr. Kartono Mohamad yang pernah mempelajari catatan tiga perawat 
Bung
Karno sejak 7 februari 1969 sampai 9 Juni 1970 serta mewancarai 
dokter
Bung Karno berkesimpulan telah terjadi penelantaran. Obat yang
diberikan hanya vitamin B, B12 dan duvadillan untuk mengatasi
penyempitan darah. Padahal penyakitnya gangguan fungsi ginjal. Obat
yang lebih baik dan mesin cuci darah tidak diberikan.
Rachmawati Soekarnoputri, menjelaskan lebih lanjut,
" Bung Karno justru dirawat oleh dokter hewan saat di Istana
Batutulis. Salah satu perawatnya juga bukan perawat. Tetapi dari 
Kowad
Sangat berbeda dengan dengan perlakuan terhadap mantan Presiden
Soeharto, yang setiap hari tersedia dokter dokter dan peralatan
canggih untuk memperpanjang hidupnya, dan masih didampingi tim 
pembela yang dengan sangat gigih membela kejahatan yang dituduhkan. 
Sekalipun Soeharto tidak pernah datang berhadapan dengan pemeriksanya, dan
ketika tim kejaksaan harus datang ke rumahnya di Cendana. Mereka 
harus menyesuaikan dengan jadwal tidur siang sang Presiden !
Malam semakin panas. Tiba tiba saja udara dalam dada semakin 
bertambah sesak. Saya membayangkan sebuah bangsa yang menjadi kerdil dan
munafik. Apakah jejak sejarah tak pernah mengajarkan kejujuran 
ketika justru manusia merasa bisa meniupkan roh roh kebenaran ? Kisah 
tragis ini tidak banyak diketahui orang. Kesaksian tidak pernah menjadi
hakiki karena selalu ada tabir tabir di sekelilingnya yang diam
membisu. Selalu saja ada korban dari mereka yang mempertentangkan
benar atau salah.
Butuh waktu bagi bangsa ini untuk menjadi arif.
Kesadaran adalah Matahari Kesabaran 
adalah Bumi Keberanian menjadi cakrawala 
Keterbukaan adalah pelaksanaan kata kata

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

silahkan isi komentar